DHARMA WANITA PERSATUAN KOPERTIS VI BERBAGI

Bendan Nduwur – Sebanyak 21 orang anak dari putra-putri  karyawan Claning service, karyawan  Kopertis VI golongan I dan II, serta sebagian dari PTS yang berstatus pelajar SD dan SMP, diundang  Dharma Wanita (DW) persatuan  Kopertis VI untuk menerima beasiswa.

Beasiswa diserahkan langsung oleh Ketua DW Kopertis VI yang dalam hal ini diwakili Wakil Ketua I,  Sri Sujanti SH yang juga menjabat Sekretaris Pelaksana, pada gelaran acara yang bertajuk Penyerahan Beasiswa dan Talk Show dengan tema “Berbagi untuk Kebersamaan dalam Pendidikan”.

“Saya berikan apresiasi kepada istri pimpinan PTS yang selama ini peduli terhadap kegiatan DW  Kopertis VI khususnya dalam dunia pendidikan. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan. Tahun ini baru bisa memberikan beasiswa kepada 21 orang anak. Dengan melihat animo dari Ibu-Ibu pimpinan PTS yang memiliki kepedulian terhadap program beasiswa ini, kita harapkan kuota penerima beasiswa semakin bertambah, begitu pula dengan  besarnya nominal beasiswa,” jelas Beliau.

Pada acara Talk Show panitia mengundang dari pihak Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK.3) “Tat Twan Asi” Jawa Tengah.

Salah satu narasaumber, Oma Yani mengatakan,  dalam upaya membangun keutuhan rumah tangga harus didasari dengan kasih sayang, perhatian, kejujuran dll, baik sesama pasangan maupun kepada anak. Terhadap perkembangan anak khususnya yang beranjak dewasa (akil balik) orang tua perlu memberikan perhatian khusus agar tidak terjerumus dalam perlakuan negatif.

“Saya benar-benar prihatin terhadap kehidupan remaja saat ini. Sebagai bangsa ketimuran, perilaku anak remaja dari segi kesopanan maupun etika sudah sangat berkurang. Lihat saja cara mereka berpakaian lebih suka mengenakan pakaian yang cenderung terbuka dan terkesan tidak sopan. Saya berharap, putra-putri dari bapak-ibu jangan sampai terjerumus dalam kehidupan  salah pergaulan  yang berkonotasi pada penyalahgunaan narkoba dan sex bebas dengan memberikan perhatian maupun pengawasan yang baik dengan melalui pemberian pemahaman budi pekerti, sopan santun maupun pendidikan karakter yang tidak hanya diperoleh anak dari bangku sekolah, akan tetapi juga perlu diajarkan oleh orang tua”, tegasnya.

Selain penyelenggaraan penyerahan beasiswa dan talk showm panitia menggelar bazar dengan menyediakan kebutuhan pokok seperti sembako dan sandang, serta potong rambur gratis. Pada acara tersebut juga dilakukan penggalangan dana melalui sumbangan sukarela yang diperuntukkan kas beasiswa dengan memperoleh minimal sebesae Rp. 4.050.000,-.

 

Sumber Berita : kopertis6.or.id

 
Unisbank Menggagas Pusat lembaga Bahasa Mandarin

Universitas Stikubank (Unisbank)  Semarang kembali memperluas kerjasama dengan Universitas Luar Negeri di Tiongkok (China). Sebelumnya, UNISBANK juga sudah melakukan penandatanganan MOU atau kerjasama dengan Universitas Guandong China (17 Juni 2014). Kini bertempat di Kampus UNISBANK Kendeng, pada hari Kamis,28 Agustus 2014,Universitas Stikubank (UNISBANK) kembali menjalin kerjasama dengan Hei Bei Normal University Tingkok. Penandatanganan dilakukan di ruang sidang kampus UNISBANK Kendeng.

Menurut Rektor UNISBANK Semarang, Dr.H.Hasan Abdul Rozak,SH.CN,MM, kita berharap kerjasama ini secara perlahan dan pasti dapat mewujudkan UNISBANK sebagai kampus Word Class University. Dalam kerjasama tersebut,kedua lembaga,yaitu  Hei Bei Normal University Tingkok dan UNISBANK Semarang sama sama berkomitmen untuk mendirikan lembaga pendidikan bahasa mandarin. Mudah-mudahan kedepan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi jurusan atau program studi Strata 1 (S1). Hasan menambahkan, dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan, diharapkan dosen dan mahasiswa diharapkan mendapatkan kesempatan studi lanjut ke Tingkok dengan program beasiswa. Diharapkan pula, lembaga pendidikan bahasa mandirin tersebut menjadi program  percontohan di Jawa Tengah.

Hal senada disampaikan oleh Dr.Zhao jin Guang, Dean of Faculty of International Cultural He Bei Normal University. Menurutnya kerjasama ini dapat lebih dikembangkan lebih luas lagi, kedepan diharapkan kerjasama dapat diselenggarakan oleh masing masing fakultas di UNISBANK Semarang, karena kebetulan 10 program studi di UNISBANK juga ada di He Bei Normal University. Sebagai bentuk komitmennya, Dr. Zhao Jinguang akan menjadi narasumber dalam kuliah umum pada tanggal 4 September 2004 terhadap 1250 mahasiswa baru UNISBANK. Dr. Zhao Jinguang menambahkan, kami akan dorong pemerintah tiongkok untuk menyalurkan program penelitian secara bersama sama antara dosen UNISBANK dan He Bei Normal University untuk melakukan penelitian di Indonesia,tutupnya.

Penandatanganan diselenggarakan di ruang sidang lantai 8, Kampus UNISBANK Kendeng. Sebagai pihak yang melakukan penandatanganan adalah Rektor UNISBANK Semarang, Dr.H.Hasan Abdul Rozak,SH.CN,MM dan Dr.Zhao jin Guang, Dean of Faculty of International Cultural He Bei Normal University.

 

 
Pengumuman Penerima Hibah Penelitian Dosen Pemula Tahun 2013

Yth. Ketua Lembaga Penelitian/ Pusat Penelitian/ Direktur
Perguruan Tinggi Swasta (terlampir)
di lingkungan Kopertis Wilayah VI
Jawa Tengah


Sehubungan dengan surat dari Dit.Litabmas Ditjen Dikti Nomor : 1845/E5.2/PL/2013 tanggal 18 Juni 2013 perihal Pengumuman Penerima  Hibah Penelitian Dosen Pemula Tahun 2013, dengan hormat kami sampaikan hasil Evaluasi Penelitian Dosen Pemula yang didanai dari DIPA Kopertis Wilayah VI Tahun 2013 (daftar terlampir)

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, kami mohon bantuan Saudara untuk mengirimkan form isian Ketua LPPM dan foto copy nomor Rekening Bank ke Kopertis Wilayah VI melalui alamat email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . atau via pos paling lambat tanggal 7 Juli 2013 (Form Isian terlampir)


Adapun hari dan tanggal pelaksanaan penandatanganan kontrak penelitian antara Kopertis Wilayah VI dengan ketua LP/LPPM akan kami beritahukan kemudian hari setelah dana masuk ke DIPA.

Atas perhatian dan kerjasama Saudara kami ucapkan terima kasih.

a.n Koordinator
Sekretaris Pelaksana,

ttd

Sri Sujanti
NIP. 195605291986022001

Tembusan :
1. Koordinator Kopertis Wilayah VI sebagai laporan.
2. Pimpinan PTS yang bersangkutan.
Sumber Berita : kopertis6.or.id
 
Besudut, Si Anak Rimba Yang Menjadi Anak Sekolah

Jakarta--Besudut, begitulah nama aslinya sebagai anak rimba. Ia merupakan seorang anak dari Suku Anak Dalam di hutan rimba yang terletak di Taman Nasional Bukit Dua Belas Makekal, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Semangatnya untuk mengikuti pendidikan formal di luar hutan, menjadikan Besudut sebagai satu-satunya anak rimba yang mengenyam pendidikan formal dan lulus ujian nasional (UN) tingkat SMA. Padahal keputusannya untuk bersekolah itu melanggar hukum adat di lingkungan Suku Anak Dalam. Ia pun dikucilkan dari komunitasnya. Besudut lalu mengubah namanya menjadi Irman Jalil.

Perkenalannya dengan dunia pendidikan dimulai pada tahun 2000, dengan mengikuti pendidikan informal bersama seorang relawan bernama Butet Manurung yang masuk ke hutan, dan menawarkan untuk mengajar mereka. Karena belajar atau bersekolah dilarang dalam hukum adat, maka anak-anak di Suku Anak Dalam tidak berani menerima tawaran Butet Manurung. Namun Besudut dan dua temannya memiliki motivasi yang tinggi untuk bisa membaca, berhitung, serta mengenal dunia luar. Mereka bertiga pun belajar dari Butet hingga tahun 2003.

"Kami dilarang sekolah karena merusak adat," tutur Besudut dengan logat khasnya. Namun ia sadar, pendidikan adalah hak setiap orang. Karena itu ia pun nekat meninggalkan komunitas adatnya demi bersekolah. Usai belajar dari Butet, dua temannya memutuskan untuk menyudahi pengalaman belajarnya. Namun Besudut memutuskan untuk melanjutkan sekolah, dan merantau ke Kota Jambi. Ia melanjutkan pendidikannya dengan pendidikan alternatif di WARSI, yaitu Warung Informasi dan Konservasi. Tahun 2004 ia masuk SD, dan langsung masuk kelas 4 SD setelah melalui tes. Namun di pertengahan tahun, ia diperbolehkan langsung naik ke kelas 5. Sehingga dalam waktu 1,5 tahun Besudut pun lulus SD, dengan nama Irman Jalil.

Tantangan diterimanya saat ia duduk di kelas 2 SMP. Menjelang ujian kenaikan kelas, Besudut justru kembali ke hutan. Saat itu ia merasakan tidak ingin bersekolah. Sebagai anak rimba yang telah melanggar adat, saat kembali ke komunitas adatnya, Besudut pun mendapat sanksi. Ia diharuskan membayar denda berupa kain. Dibantu orangtua dan teman-temannya, ia pun membayar sanksi adat tersebut dengan memberikan beberapa kain. Besudut mengalami demotivasi untuk bersekolah, tapi tidak bagi guru-gurunya. Guru-guru Besudut terus mengajaknya untuk kembali ke sekolah hingga akhirnya ia pun bersedia.

Besudut, alias Irman Jalil, berhasil menamatkan sekolahnya hingga SMA, di usia 21 tahun. Ia menjadi satu-satunya anak rimba yang mengenyam pendidikan formal, dan resmi lulus UN dengan nilai yang cukup memuaskan, yaitu 32,40. Itu berarti rata-rata nilai UNnya adalah 6,4. Sedangkan nilai ujian sekolah Besudut sebesar 48,14, yang berarti rata-ratanya 8,02.

Usai dinyatakan lulus UN, Besudut berniat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia penasaran, seperti apa pendidikan di perkuliahan. Terlebih lagi, Besudut memiliki cita-cita menjadi guru. "Saya satu-satunya dari Suku Anak Dalam yang sudah lulus SMA. Saya ingin ambil PGSD supaya bisa mengajar," tuturnya. Besudut memiliki cita-cita mulia menjadi guru, supaya bisa mengajar kelompok adatnya, Suku Anak Dalam, sehingga mereka pun bisa membaca, menulis dan berhitung.

Ada cerita menarik yang disampaikan Besudut mengenai kemampuan membaca di kelompok adatnya. Suatu hari datang surat dari Kepala Desa Tanah Garo yang ditujukan untuk Kepala Suku Anak Dalam. Namun sang pemimpin adat tidak bisa membaca surat tersebut. Begitu pula dengan orang tua lain. Para pemimpin adat pun memanggil Besudut dan dua temannya yang pernah belajar membaca dengan Butet Manurung. Semua orang tua pun berkumpul untuk mendengarkan surat yang dibaca ketiganya. Mereka diminta persatu-satu untuk membaca surat tersebut. "Ternyata bunyinya sama, baru mereka percaya," tutur Besudut mengisahkan pengalamannya.

Hal itu pula yang memotivasi Besudut untuk menjadi guru dan mengajar di kelompok adatnya. Ia melihat, sebenarnya anak-anak di Suku Anak Dalam memiliki keinginan untuk bersekolah, namun tidak diizinkan orangtuanya karena dianggap melanggar adat. Semangat dan tekad Besudut pun diapresiasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, yang memberikan akses kepadanya untuk berkuliah di Universitas Jambi. (DM)

 

Sumber Berita : kemdiknas.go.id

 
PEKAKU UNISBANK Diawali Dengan Kuliah Umum

Pita warna hijau menghiasi kucir rambut mahasiswa baru UNISBANK Semarang. Dengan memakai baju hitam, putih dan dibalut jaket almamater warna merah,wajah mereka terlihat gembira menyandang status mahasiswa. Apalagi Rektor UNISBANK Semarang.Dr.H.Hasan Abdul Rozak,SH.,CN,MM memberikan kuliah umum dengan metode penyampaian yang interaktif sehingga tidak terkesan formal dan kaku. Suasana inilah yang terlihat dalam suasana pengenalan kampus dan akademiki ( PEKAKU) bagi mahasiswa baru UNISBANK tahun 2014.

Menurut ketua panitia PEKAKU UNISBANK,Saifurrohman,S.Kom,M,cs, kegiatan PEKAKU lebih diarahkan pada kegiatan kegiatan yang bersifat informatif dan mendorong jiwa kepedulian social terhadap mahasiswa baru. Hal ini diwujudkan dalam bentuk penggalangan barang seperti susu dan mie instan yang harus dibawa oleh mahasiswa dan akan disalurkan kepada masyarakat kurang mampu pada penghujung kegiatan PEKAKU. Selain itu, mahasiswa baru UNISBANK Semarang juga didorong mempunyai sikap kepedulian ekologi, bentuknya pada pembekalan kemarin dilarang menggunakan sepeda motor ke kampus. Kita bisa bayangkan, bagaimana jika semua penduduk Indonesia tidak menggunakan BBM dalam sehari saja, kita akan lebih berhemat energi, jelasnya.

Kegiatan PEKAKU UNISBANK diwali dengan kuliah umum yang hari ini pematerinnya adalah Rektor UNISBANK Semarang, Dr.H.Hasan Abdul Rozak,SH.,CN,MM dan Walikota Semarang, Hendrar Prihadi. Namun karena ada agenda lain, walikota Semarang digantikan oleh Hernowo dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang. Menurutnya, UNISBANK layak untuk mendapatkan apresiasi karena merupakan kampus yang konsisten membentuk SDM yang berjiwa dan mempunyai sikap kewirausahaan. Ini sangat penting karena jumlah pencari kerja dari tahun ke tahun semakin semakin meningkat, tahun 2102 sejumlah 13.995 dan tahun 2013 mencapai 27.039. hal ini tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Dengan demikian pemerintah kota Semarang memandang penting untuk membuka dan mendorong usaha usaha baru atau UMKM. Idealnya sebuah negara maju itu penduduknya 2,0 persennya harus berwirausaha,sedangkan Indonesia saat ini hanya 0,17 persen, dengan demikian UMKM perlu didorong dan dikembangkan, jelasnya.

 
<< Start < Prev 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Next > End >>

Page 68 of 173