Universitas Stikubank (UNISBANK) Semarang

Bahasa Gaul vs Etika Profesional: Pelajaran Penting bagi Calon Pekerja

Di kalangan mahasiswa, bahasa gaul sudah jadi bagian dari keseharian. Kata-kata seperti ā€œayingā€, ā€œanjirā€, atau ungkapan santai lainnya sering muncul saat ngobrol di kelas, nongkrong, atau di media sosial. Selama konteksnya tepat, hal itu wajar dan sah-sah saja. Masalahnya, kebiasaan ini kadang tanpa sadar terbawa ke dunia kerja. Perlu disadari, dunia kerja punya aturan main yang berbeda. Cara bicara bukan cuma soal nyampein pesan, tapi juga soal kesan. HRD, atasan, atau rekan kerja bisa menilai sikap dan profesionalitas seseorang dari gaya bicaranya. Bahasa yang terlalu santai atau terdengar asal bisa bikin kita dianggap kurang siap, meskipun sebenarnya punya kemampuan yang bagus.

Buat mahasiswa yang sebentar lagi lulus, kemampuan menyesuaikan bahasa itu penting. Di kampus, mungkin kita terbiasa ngomong santai ke teman atau bahkan ke dosen tertentu. Tapi di kantor, komunikasi lebih dijaga: jelas, sopan, dan tidak menyinggung. Ini bukan soal sok formal, tapi soal tahu tempat dan situasi. Cara bicara juga berpengaruh ke citra diri. Orang yang bisa menyampaikan pendapat dengan kata-kata yang rapi dan terkontrol biasanya lebih mudah dipercaya. Saat rapat, presentasi, atau diskusi kerja, pilihan kata yang tepat bikin ide kita lebih dihargai dan didengar. Sebaliknya, kalau gaya bicaranya terlalu ā€œnongkrongā€, pesan yang disampaikan bisa jadi kurang dianggap serius.

Bukan berarti setelah kerja kita harus jadi orang yang kaku dan kehilangan gaya sendiri. Bahasa gaul tetap bisa dipakai, terutama saat ngobrol santai dengan rekan kerja yang sudah akrab. Yang penting adalah kemampuan memilah: kapan boleh santai, kapan harus profesional. Di situlah kedewasaan komunikasi diuji. Sebagai mahasiswa, fase ini adalah waktu yang pas buat latihan. Mulai biasakan berbicara dengan lebih tertata saat presentasi, diskusi kelas, atau organisasi. Kebiasaan kecil ini akan sangat kepake saat masuk dunia kerja nanti.

Intinya, bahasa gaul dan etika profesional bukan untuk dipertentangkan, tapi diseimbangkan. Karena di dunia kerja, kemampuan bicara bukan cuma pelengkap, tapi salah satu kunci utama untuk bertahan dan berkembang.