Pernah nggak sih kamu duduk di kelas, ngeliatin dosen nerangin materi yang rasanya kayak kode Matrix, tapi kamu cuma bisa angguk-angguk pura-pura paham? Terus, saat teman-teman mulai bahas tugas, kamu bengongākarena nggak tahu tugasnya harus ngapain. Tapi bukannya nanya, kamu malah mikir, āAh, nanti aja cari tau sendiri.ā
Nah, di situlah masalah mulai. Rasa gengsi buat bertanya kadang lebih gede daripada keinginan buat ngerti. Padahal, nggak ada yang salah dengan nanya. Tapi karena takut dikira bodoh, takut dicibir, atau takut dianggap nggak serius kuliah, akhirnya kita memilih diam. Hasilnya? Tugas numpuk, deadline mepet, panik sendiri, dan akhirnya… nyesel.
Kenyataannya, banyak dari kita yang lebih takut malu daripada gagal. Padahal, malu itu sementaraākalau pun benar ditertawakan (yang jarang banget kejadian), itu nggak akan bikin dunia runtuh. Tapi kalau kamu gagal submit tugas atau salah ngerjain karena nggak paham, itu dampaknya bisa panjang: nilai jeblok, IPK turun, bahkan bisa jadi beban mental.
Perlu diingat, bertanya bukan berarti kamu bodoh. Justru itu bukti kalau kamu peduli. Di kampus, belajar itu bukan balapan siapa paling jago, tapi soal siapa yang paling mau berkembang. Dan berkembang itu dimulai dari keberanian buat mengakui bahwa kamu belum tahu.
Coba deh lihat sekeliling, teman-teman yang sering tanya dosen atau diskusi sama teman biasanya lebih tenang saat tugas datang. Mereka nggak nunggu waktu mepet, karena dari awal udah siap. Sementara yang āmalu bertanyaā seringnya baru panik pas deadline tinggal hitungan jam.
Jadi mulai sekarang, buang jauh-jauh gengsi yang nggak penting itu. Kalau nggak ngerti, tanya. Kalau ragu, klarifikasi. Jangan sampai cuma karena takut nanya, kamu malah nyasar sendirian di tengah-tengah hutan deadline yang gelap gulita.
Toh, lebih baik ditertawakan karena nanya hal āsepeleā, daripada ditertawakan karena nggak ngumpulin tugas.


