Dalam beberapa tahun terakhir, layanan paylater menjadi tren baru di kalangan mahasiswa. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk membeli barang atau jasa sekarang dan membayarnya nanti, baik sekaligus maupun dengan cicilan. Kemudahan ini banyak ditemukan di platform populer seperti Shopee, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada hal penting yang perlu dipahami oleh mahasiswa agar tidak terjebak dalam masalah keuangan.
Mengapa Mahasiswa Suka Paylater?
Kemudahan dan fleksibilitas menjadi alasan utama mahasiswa tertarik menggunakan paylater. Bagi sebagian mahasiswa, fitur ini membantu saat dana bulanan belum cair atau ketika ada kebutuhan mendesak seperti membeli buku, alat tulis, hingga kebutuhan pribadi. Berdasarkan sejumlah penelitian, lebih dari 40% mahasiswa di Indonesia sudah pernah menggunakan layanan paylater, terutama Shopee Paylater dan Gojek Paylater.
Namun, di balik kemudahan tersebut, banyak mahasiswa yang menggunakannya bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan. Rasa ingin tampil kekinian, mengikuti tren belanja online, dan dorongan gaya hidup membuat penggunaan paylater semakin meningkat di kalangan muda.
Dampak Positif dan Negatif
Di satu sisi, paylater dapat membantu mengatur pengeluaran jangka pendek dan memberikan ruang fleksibilitas keuangan. Tetapi di sisi lain, risiko finansial cukup besar jika tidak digunakan secara bijak. Mahasiswa bisa saja terjebak utang, terutama bila sering menunda pembayaran atau menggunakan paylater untuk hal konsumtif. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan paylater berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa, khususnya bagi mereka yang memiliki literasi keuangan rendah.
Menggunakan dengan Bijak
Sebelum menggunakan paylater, mahasiswa sebaiknya memahami kemampuan finansial pribadi. Catat semua transaksi, bayar tepat waktu, dan hindari membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan. Ingat, kemudahan membayar nanti bukan berarti bebas dari tanggung jawab.
Tren paylater di kampus memang mencerminkan kemajuan finansial digital, tetapi juga menuntut kesadaran dan kedewasaan. Mahasiswa perlu lebih cerdas mengatur keuangannya agar kemudahan yang ditawarkan tidak berubah menjadi beban di masa depan.


