Filosofi Keren Dari Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara, bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, memiliki cita-cita untuk memajukan pendidikan di Indonesia dan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia juga mengedepankan pendidikan yang berbasis pada kebudayaan dan kearifan lokal, serta memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk mendapatkan pendidikan, tanpa terkecuali dari latar belakang sosial, agama, atau ras.

Ki Hadjar Dewantara mengemukakan 3 filosofi keren, yaitu “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani”.¬† Artinya apabila di depan memberi teladan, apabila di tengah memberi ilham (inspirasi), apabila di belakang memberi dorongan.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Oleh karena itu Tut Wuri Handayani digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan sistem pendidikannya.

Filosofi keren ini masih relevan dengan kondisi masa kini. Pendidikan harus menghubungkan nilai-nilai kebudayaan dan nasional dengan nilai-nilai universal yang ada di dunia. Pendidikan harus memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, tanpa terkecuali dari latar belakang sosial, agama, atau ras. Selain itu, pendidikan juga harus mengedepankan nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal sebagai bagian dari identitas nasional, namun tetap membuka diri terhadap pengaruh global untuk mengikuti perkembangan zaman.

Kelak saat generasi muda menjadi seorang pemimpin, filosofi ini juga perlu diterapkan. Ing Ngarsa Sung Tulada artinya menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan teladan. Ing Madya Mangun Karsa, artinya seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani, seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.